Kampung Inggris itu di Tulungrejo dan Pelem

0
5

Siapa yang masih tak kenal Pare dengan “kampung Inggris”-nya? Nama kampung Inggris ini bagaikan magnet yang telah menarik minat para pelajar dari berbagai daerah di Indonesia kesini, bahkan warga negara tetangga Malaysia, Philipina, Timor Leste, dan dari Libya di benua Afrika pun tidak ketinggalan ikut belajar bahasa Inggris di Pare.

Maklum saja, disini varian program ilmu bahasa Inggris mulai dari tingkat dasar sampai lanjutan mudah di dapat dengan biaya yang sangat terjangkau. Dengan nama “kampung Inggris” ini, Pare kini memiliki brand sebagai tempat belajar bahasa Inggris teramai dengan metode belajar yang unik untuk mempercepat penguasaan bahasa Inggris. Maklum telah terbukti banyak lulusan Pare yang langsung lancar cas-cis-cus selepas berguru disini. Jadinya nama Pare dengan “kampung Inggris”-nya tersebar keseluruh penjuru negeri hingga sangat sering media massa baik koran cetak, elektronik (TV) dan portal online meliput khusus tentang “kampung Inggris” Pare.

Sebenarnya penamaan “kampung Inggris” bagi sebagian orang dianggap kurang tepat sebab jangan harap Anda dapat berjumpa dengan “bule-bule” –native speaker dari negeri Ratu Elizabeth-Inggris atau Londo-Amerika disini. Melainkan karena maraknya jumlah lembaga dan peminat kursus bahasa Inggris disini, meski tidak semua warga (terutama penduduk asli desa Tulungrejo dan Pelem) mengunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, tetapi, jika kita berkunjung ke warung makan, pemilik akan menjawab dengan bahasa yang digunakan pembeli, misalnya jika kita mengunakan bahasa Indonesia ya-silakan, menggunakan bahasa Inggris-oke-juga dan bahasa Jawa ya¬-monggo.

Bapak Muhammad Kalend Osen (akrab disapa Mister Kalend), pendiri lembaga kursus Basic English Course (BEC) pun, tidak sependapat dengan penamaan “kampung Inggris”. Menurut beliau, penggunaan nama “kampung Inggris” akan memberi kesan seolah-olah semua penduduk disini menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan kesehariannya. Pria kelahiran Kutai Kartanegara (Kalimantan Timur) 20 Februari 1945 ini pun menyarankan sebaiknya di sebut kampung kursusan bahasa Inggris, karena memang disini pilihan kursus bahasa Inggris lebih popular dibanding bahasa Jepang, Korea, Mandarin, Perancis, Spanyol dan Arab.

Nah, menyebut “kampung Inggris”, tak semua pelajar tahu kalau ternyata secara geografis letaknya hanya di dua desa yaitu Tulungrejo dan Pelem. Di desa Pelem terutama di dusun Singgahan (tempat dimana pada 15 Juni 1977, Mister Kalend pertama kali mendirikan BEC), dusun Pelem, dusun Mbetonan, dusun Ngeblek. Sedang di Tulungrejo sendiri ada di dusun Mulyoasri, dusun Mangunrejo, dusun Puhrejo dan dusun Tegalsari. Menarik mengetahui asal usul nama Tulungrejo dan Singgahan ini.

Kedua tempat ini memiliki arti yang sangat cocok dengan situasi sekarang yang seperti sudah diramalkan oleh tua-tua pendiri desa ini karena Tulungrejo itu artinya “penolong yang ramai”. Maksudnya kalau ada seseorang yang tertimpa masalah di Tulungrejo maka akan banyak tetangga yang akan menolongnya. Belakangan diketahui kalau penduduk di desa Tulungrejo memang sangat ramah dan toleran terhadap siapa saja pendatang, meski kehidupan mereka sangat sederhana sebagai petani atau pedagang kecil. Sedangkan Singgahan, mengandung arti “persinggahan”.

Konon, dari dulu jadi tempat singgah, menetap, orang-orang yang datang dari berbagai pelosok. Dua arti nama ini pun berhubungan dengan nama Pare sendiri, “Panglerenan”, yang berarti “tempat beristirahat” atau tempat “berkumpul” yang menjadikan kecamatan Pare ini sebagai tempat yang selalu ramai dengan orang-orang dari berbagai daerah, suku, budaya, agama yang berkunjung ke sini, apakah untuk sekedar beristirahat dari perjalanan, menginap dalam jangka waktu tertentu dan tentu saja kini untuk belajar bahasa.

Jadilah kecamatan Pare ini memang layak dijuluki sebagai pusat belajar bahasa Inggris yang murah, efisien dan efektif di Indonesia, sehingga tak salah lagi keterkenalnya mengabar hingga ke pelosok nusantara, bahkan jauh sampai di Libya. Tak heran kalau banyak orang yang menyebut “Kampung Inggris Pare” saja.

Ustadz-Guru, Santri-Murid dan Karakter Manusia Indonesia Tak dapat dipungkiri sebagai yang patut dicatat oleh tinta emas sejarah adalah peran KH Ahmad Yazid (alm), tokoh agama Pare dan pengasuh Pondok Pesantren Darul Fallah yang telah mendidik Mister Kalend–sosok pendiri lembaga Basic English Course (BEC), pionir kursusan di dusun Singgahan, desa Pelem.

Ustadz Yazid, demikian disapa oleh santri-santrinya, yang khatam sembilan bahasa asing memang menjadi tokoh yang disegani di Jawa Timur terutama para Ulama dan teladan bagi para Santrinya. Ustadz Yazid sebagai sosok yang bersahaja, sederhana dan tulus ini mengajarkan ilmu agama, bahasa Arab dan bahasa Inggris dan telah mendidik Ustadz, Guru, yang kini mengasuh beberapa pondok pesantren dan lembaga kursusan bahasa Inggris seperti Mister Kalend dan Ustadz Ali Mustofa Dimyati (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihlas Averrous), sehingga mereka mampu mempertahankan nilai-nilai kesederhanaan, kesungguhan, suka berkorban, ikhlas dalam mendidik–layaknya sang tokoh.

Ustadz Yazid lah yang mewasiatkan agar para Santri seperti Mister Kalend harus menciptakan biaya kursusan yang terjangkau dengan tetap mempertahankan kualitas dan menjadikan pendidikan bahasa sebagai salah satu rumah pengetahuan yang dapat membentuk karakter manusia Indonesia sesuai dengan iman dan takwa dan juga melek teknologi. Setelah menimba ilmu dari Ustadz Yazid, Mister Kalend kemudian mendirikan BEC pada 15 Juni tahun 1977.

Awalnya, fasilitas belajar BEC numpang di serambi Masjid Darul Fallah, di beberapa tempat seperti balai desa, atau menyewa beberapa rumah, kini menempati kompleks gedung megah di jalan Anyelir nomor 8, RT/RW: 02/XII. Murid-murid Mister Kalend pun datang dari berbagai penjuru nusantara, hingga hasil di tempaan Mister Kalend ini pun membuka kursus bahasa Inggris yang sama di desa Tulungrejo dan Pelem.

Jadinya semakin hari lembaga kursus makin banyak (hingga ratusan lembaga) dan terutama peminatnya kian hari terus bergerombol datang dari berbagai daerah. Kursus bahasa Inggris ini sangat diminati oleh para pelajar karena biayanya terjangkau dan juga karena biaya hidup di Pelem dan Tulungrejo tergolong murah. Maka jadinya dua desa ini ramai dengan lembaga kursus bahasa Inggris–“menjamur”–berkembang menjadi pusat belajar bahasa Inggris hingga di juluki “Kampung Inggris”.

Dengan banyaknya para pelajar datang kesini, akhirnya menarik minat pendatang terutama para pengusaha yang melihat peluang usaha kemudian mendirikan lembaga kursusan, mendirikan rumah untuk kos-kosan atau berdagang karena penduduk asli juga banyak yang menjual tanah dan rumahnya. Maka tak heran, lahan pertanian kini di sulap jadi rumah untuk kos-kosan atau tempat-tempat usaha penunjang kursusan. Tentang kos dan asrama yang jadi keunikan dari “Kampung Inggris” ini yakni karena para pelajar harus kos atau mengambil asrama dan makan disekitar dua desa ini.

Mereka melebur menjadi komunitas pelajar yang berbahasa Inggris yang model seperti ini tak akan didapat di tempat lain meski pernah di coba di beberapa daerah lainnya namun gagal. Memang belajar bahasa Inggris disini terkenal dengan singkatnya, bahkan dengan pertemanan karena terkadang kita hanya bisa mengenal teman-teman selama dua minggu (program dua minggu), sebulan (program sebulan) dan setelah itu semuanya sudah pulang ke kota atau desanya masing-masing.

Dengan keunikan seperti ini, praktis kampung Inggris yang sama hampir selalu gagal di terapkan, dibentuk di tempat lain karena daya dukung lingkungan bagi pengembangan budaya kursusan di daerah lain tentu saja tidak sama dengan disini. Menurut Mister Nico yang alumni pelajar di berbagai lembaga kursus dan tutor di salah satu lembaga disini mengatakan kalau lingkungan yang mendukung pengembangan kursus bahasa Inggris seperti disini memang tidak bisa diterapkan di tempat lain. “Lingkungan yang seperti inilah yang menciptakan karakter ekonomi yang saling menguntungkan.

Disini memang cocok dan semuanya sangat menunjang suasana belajar seperti biaya hidup yang tergolong murah dan penduduknya yang menghargai, toleran terhadap semua pelajar yang datang dari berbagai karakter”, ujar salah satu Manajer Pengembangan Sumber Daya Manusia (HRD) sebuah perusahaan besar di Jakarta ini. Masih menurut Mister Nico, meski lembaga kursusan ada yang menyediakan asrama (dormitory atau camp), namun penduduk juga menyediakan kos-kosan dengan pilihan murah dan bersih.

Dengan begitu, tak hanya lembaga kursusan yang berkembang, namun juga perekonomian penduduk sehingga bagi penduduk asli tak perlu jauh-jauh untuk bekerja dan mendirikan usaha. Tempat usaha kos-kosan, warung makan, warung kelontong, warung internet, toko buku, penyewaan sepeda, usaha fotokopi, studio foto, counter pulsa dan hand phone, salon, laundry, dan sebagainya, banyak dijumpai di dua desa ini.

Bukan cuma itu, tempat kursus komputer, kursus mengemudi, bimbingan belajar sempoa (matematika), lembaga bimbingan belajar (bimbel) untuk siswa SD, SMP dan SMA juga pelatihan kewirausahaan (entrepreneurship), pelatihan pramuwisata hingga kru kapal pesiar ada disini. Maka, demikianlah waktu dan sejarah harus mencatat peran dan keteladan setiap guru seperti KH Ahmad Yazid (alm) dan Mister Kalend.

Dari mereka kita berharap akan terus lahir KH Ahmad Yazid dan Mister Kalend muda, akan terus lahir para pemikir dan pembaharu yang dapat membangun kampung-kampung kursusan bahasa internasional lainnya, kampung belajar matematika, fisika, biologi dan sebagainya, tentu saja dengan akses biaya yang terjangkau dengan tetap mempertahankan kualitas, sehingga pendidikan bahasa sebagai salah satu rumah pengetahuan kedepannya tetap membentuk karakter manusia Indonesia sesuai dengan iman dan takwa dan juga melek teknologi.

Jadi benarlah kata Begawan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Ki Hajar Dewantara bahwa kemajuan bangsa tidak terlepas dari sosok “guru” yang rela melakukan “pengorbanan”. Dari “guru-guru” itulah pondasi dasar untuk membangun bangsa menjadi kuat yang melahirkan, mencipta generasi muda bangsa yang juga sebagai guru dalam pengertian universal bisa “digugu”-(didengar) dan “ditiru”-(diteladani). Menurut Ki Hajar Dewantara, konsep pendidikan harus digali dari nilai-nilai kultural religius Indonesia yang memadukan unsur kemerdekaan, kebangsaan, kebudayaan, kemandirian, kekeluargaan, keseimbangan dan budi pekerti. Karena itulah, para guru tak boleh memberikan perlakuan berbeda karena sentimen suku, agama, ras dan golongan tertentu dan tentu saja di Pare, amanat Ki Hajar Dewantara selalu diterapkan.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here